Selasa, 07 April 2015

Tanah Lot , Bali.



Masih sambungan dari rangkaian liburan di Bali, kali ini saya mengunjungi obyek wisata yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Objek wisata favorite turis lokal maupun mancanegara yang tidak pernah absen dari daftar kunjungan wajib yakni Tanah Lot.

Tanah Lot merupakan sebuah objek wisata di Bali Indonesia. Disini terdapat dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya lagi terletas di atas tebing mirip dengan Pura Uluwatu. Pada dasarnya Tanah lot terkenal sebagai tempat yang cocok untuk melihat matahari terbenam, namun saat itu saya mengunjunginya pagi hari disaat air laut surut dan membuat saya agak sedikit kecewa.

Saat masuk ke lokasi ini , kami sudah di peringatkan mengenai beberapa aturan. Salah satu aturannya bahwa wanita yang berhalangan atau datang bulan tidak boleh untuk mendekati daerah pura. Ini bukan tidak beralasan, melainkan memang sudah aturan. Seperti halnya kita sebagai seorang muslim, tidak boleh masuk ke masjid jika dalam keadaan tidak suci. Pura merupakan tempat ibadah untuk umat Hindu sehingga dianggap suci dan tidak di peruntukan untuk wanita yang sedang berhalangan untuk memasuki wilayah pura.



Senin, 06 April 2015

Senja di Selat Bali.


Liburan semester ganjil saya memilih berlibur Bali, dengan menggunakan jalur darat dan laut. Dari Kota Semarang menuju Kabupaten Banyuwangi di tempuh selama kurang lebih 20 jam untuk sampai di pelabuhan feri di desa Ketapang di Kabupaten Banyuwangi. Pelabuhan ini memang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali via laut yakni Selat Bali bisa di tempuh dengan waktu kurang lebih 1 jam.

Saya mengambil gambar senja ini ketika pulang dari Bali menuju Banyuwangi, dengan keadaan ombak yang sangat tenang. Untuk pertama kalinya saya menikmati senja di tengah-tengah laut dan itu sangat mengagumkan, perjalanan saya sangat melelahkan karena untuk ke Bali dari kota Semarang menggunakan jalur darat membutuhkan waktu sehari semalam.

Ada yang unik ketika sampai di pelabuhan Banyuwangi, para lelaki mulai dari anak-anak hingga yang berusia dewasa meminta kami melemparkan uang koin. Sepanjang koridor pelabuhan menuju kapal yang akan di tumpangi, banyak sekali para peminta koin yang menunggu untuk di lemparkan. Namun saya masih kurang paham bagaimana bisa mereka bertahan di dalam air di waktu-waktu tertentu seperti saat malam hari dimana suhu air berubah menjadi sangat dingin.


Ini menjadi perjalanan paling mengesankan untuk saya, pertama kalinya menumpangi kapal untuk berpergian. Awalnya saya mengira akan mabuk laut, untung saja tidak. Memang bau mesin kapal cukup mengganggu indera penciuaman, tapi itu hanya di butuhkan kebiasaan, saya sampe lupa bahwa tidak menyukai bau mesin kapal ini karena melihat sekeliling warna orange mengelilingi langit. Semua gambar orang menjadi siluet dan ini pemandangan yang menyejukkan.

Jalan Tol Unik




Liburan semester ganjil kali ini saya memanfaatkan waktu untuk berkunjung ke Provinsi Bali. Bali menjadi alternative liburan kali ini meskipun cuma 3 hari tapi saya merasa Bali ini cukup istimewa dengan berbagai keindahan yang di tawarkan. Semua yang saya lihat terasa menarik dan saya seperti merasa ingin melihatnya lagi dan lagi. Pesona eksotis yang di tawarkan oleh Bali memang mampu memukau siapa saja yang melihatnya. Tidak heran, banyak orang mulai dari dalam maupun luar negeri berkunjung kesini hanya untuk sekedar liburan.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Jalan Tol Bali Mandara. Jalan tol yang menghubungkan Nusa Dua, Ngurah Rai, dan Benoa ini memiliki panjang 12,7 km dan sebagian besar berada diatas laut. jalan tol ini adalah jalan tol pertama di Bali dan merupakan jalan tol terpanjang di Indonesia yang berada diatas laut.

Jalan Tol Bali mandara ini merupakan jalan tol terindah yang pernah saya jumpai. Tol ini sangat unik karena bukan dibangun dijalan pada umumnya, namun dibangun diatas air dan dikelilingin dengan tumbuhan mangroove. Dengan pemandangan yang menyegarkan mata Jalan tol ini menjadi tambahan tempat wisata gratis. Wisatawan juga bisa berfoto di spot-spot tertentu yang disediakan pemerintah Bali memang untuk mengambil gambar.


Uniknya jalan tol ini tidak hanya bisa dilalui oleh mobil saja seperti jalan tol di kota-kota besar lainnya, melainkan disediakan juga jalur khusus untuk sepeda motor disisi kiri dan kanannya. Jalan tol ini juga di lengkapi cctv 24 jam guna memantau pergerakaan kendaraan jika sewaktu-waktu ada kendaraan yang mogok, Jasa Marga pun menyediakan Derek gratis.

Sisi Lain Tanaman Mangrove


Di tengah-tengah liburan lalu, saya mampir ke tempat teman saya yakni di kota Pekalongan. Jika tadinya saya berasal dari pulau Sulawesi, melihat tanaman mangrove ini sudah biasa, perbedaannya disana kita menyebutnya dengan pohon bakau. Pohon bakau semacam ini sudah biasa kita temukan, bahkan di pinggiran kota tanpa harus menempuh perjalanan jauh.

Sebetulnya saya agak sedikit kaget dengan pemerhatian tanaman mangroove di sebagaian besar kota di pulau Jawa. Karena pada umumnya di Kendari sendiri, mangroove bahkan tumbuh dengan bebas di setiap perairan. Mungkin karena sebagian kota kendari adalah perairan. Mangroove memang berfungsi untuk menyerap air, sehingga bencana seperti banjir bisa di tanggulangi. tapi ternyata tanaman mangroove ini juga bisa di buat menjadi sebuah tempat wisata. Saya mengagumi beberapa taman mangroove yang di buat sedemikian cantiknya untuk di buat sebagai tempat wisata. Seperti di kota Jakarta, dan provinsi Bali.

Kalau taman mangroove yang ini terletak di utara kota Pekalongan. Sebenarnya taman ini belum sempurna, namun sudah banyak saja orang yang mengunjunginya. Saya mengunjungi tempat ini karena diajak oleh teman saya yang bermukim di kota ini. Saya berkunjung sekitar pukul 9 pagi, dengan cuaca yang cukup terik. Namun ternyata itu malah membuat tempat ini menjadi sangat indah dengan pantulan sinar matahari di air, sehingga mengubah warna airnya menjadi berkilauan.

Saat berkunjung kami belum dikenai biaya masuk karena tempat ini memang belum dibuka secara resmi. Ada beberapa bangunan di taman mangrove ini selain penginapan, juga tempat untuk berteduh jika cuaca sedang tidak bersahabat. Ada juga wisata air menggunakan perahu untuk berkeliling di seputar tanaman mangrove. Saya mengambil gambar ini ketika berjalan di jembatan pintu masuk ke area bangunan yang di buat panggung mengikuti khas bangunan bahari.


Saya berharap semoga di kota Kendari nantinya juga akan bisa seperti kota-kota lain yang membudidayakan tanaman mangrove dengan memberikan perhatian khusus agar bisa menjadi salah satu aset kota yang berharga. Pada dasarnya mangrove di kota Kendari sudah tumbuh dengan sendirinya, tanpa harus ditanam lebih dahulu seperti di kota lainnya, oleh karena itu bukankah akan lebih baik jika kita turut membantu pelestariannya?

Minggu, 05 April 2015

Kaitan Erat Kompasiana dengan Citizen Journalism

Pada awalnya istilah Citizen Journalism (jurnalime warga) adalah satu produk fenomenal dari kemunculan internet selain media online. Tidak bisa dipungkiri bahwa adanya perkembangan pesat dari dampak media sosial ini membuat dunia jurnalistik terus mengalami perkembangan. Perubahan demi perubahan selalu bermunculan, inovasi terbaru terus menerus bermunculan demi mendukung keberadaan jurnalistik online. Membawa istilah “medium is the message” medium adalah pesan itu sendiri.

Banyak pro dan kontra yang terjadi berkaitan dengan jurnalistik warga ini. Meskipun dalam konsepnya menawarkan kemudahan dan fleksibilitas yang dimulai dengan menyalurkan sebuah berita ke media sosial, namun hal ini masih di tentang beberapa ahli media dan jurnalisme professional. Warga tidak serta bisa menjadi wartawan karena untuk menjadi wartawan ada pendidikan khususnya.

Di Indonesia sendiri jurnalisme warga semakin mendapatkan ruang bebas pada era reformasi karena adanya kebebasan pers. Perkembangan jurnalisme warga di Indonesia seperti munculnya blog-blog dan website berbasis jurnalisme warga salah satunya terinspirasi dari ohmynewes.com yang berkembang pesat di Korea selatan. Peran jurnalisme warga di Indonesia mulai tahun 2005 begitu berpengaruh terutama saat bencana bertubi-tubi melanda Indonesia.

Sebagai contoh , kompasiana yang awalnya adalah blog jurnalis Kompas namun sekarang bertransformasi menjadi sebuah media warga (citizen media). Di sini, setiap orang dapat mewartakan peristiwa, menyampaikan pendapat dan gagasan serta menyalurkan aspirasi dalam bentuk tulisan, gambar, ataupun rekaman studio dan video. Dalam kaitannya mengenai jurnalisme warga, kompasiana sudah menjadi salah satu media sosial yang menyebarkan informasi dan bisa saling terhubung satu dengan yang lainnya. Saat ini perkembangan kompasiana sudah memasuki dunia media baru lagi. Sebagai sebuah jurnalisme warga, kompasiana mengalami perkembangan yang pesat dengan waktu dan kemajuan sebuah era.

Adanya program kompasiana yang ditayangkan di media televisi ini mempunyai arti positif, bahwa beberapa media mendukung adanya citizen journalism. Mengenai beberapa pendapat diatas, bahwa tidak semua orang bisa menjadi wartawan itu tentu saja benar. Wartawan dan warga tentu saja mempunyai cakupan berbeda, mulai dari pengetahuan dan teknisnya, namun demikian keberadaan citizen journalism sendiri bisa di wujudkan dan di bantu dengan adanya jurnalisme profesional di dalamnya. Adanya pro dan kontra mengenai jurnalisme warga ini seharusnya sudah bisa menjadi penengah antara dua ilmu jurnalistik yang berbeda dan seharusnya menjadi satu kekuatan baru di dunia jurnalistik.


Jika dilihat dari sisi positifnya, citizen journalism akan sangat membantu wartawan yang tidak bisa berada di TKP tepat waktu jika ada sebuah peristiwa menarik yang terjadi, dan tentunya dengan adanya jurnalisme warga ini masyarakat juga akan lebih cepat mengetahui informasi-informasi terbaru yang sedang terjadi mulai dari lokal hingga nasional.